Rabu, 11 Maret 2015

Kota Padang, Menjadi Kota Cyber City

PADANGPOS  (Padang)
Menurut Windra Deddie, Kepala Bidang Komunikasi dan Informasi Dinas Perhubungan Kota Padang, dalam lima tahun ini, Kota Padang sudah menjadi kota cayber atau cyber city. Artinya, segala bentuk pelayanan sudah menggunakan tekhnologi informasi (TI). Misalnya, sebuah puskesemas yang menggunakan TI, dimonitor oleh pimpinan kota oleh TI juga.

"Pada sebuah puskesmas yang menerapkan TI, maka dapat dikontrol pimpinan kota pelayanannya melalui TI pula. Misalnya, di puskesmas itu dipantau poli giginya, akan terlihat berapa orang pasien yang antre, dan berapa yang sudah dilayani di puskesmas tersebut. Demikian juga pada KP2T, misalnya ada 100 orang yang mengurus perizinan, akan terlihat berapa yang mengurus izin gangguan, dan berapa yang mengurus izin lainnya," ungkapnya, Selasa (10/3/2015).

Termasuk, ujar Windra Deddie lagi, akan diterapkan office otomation atau surat elektronik, yatu otomasi perkantoran. Misalnya ada surat atau telaah staf, dibuat secara elektronik dari bawah sampai ke atas. Walau Walikota, Wakil Walikota, dan Sekretaris Daerah dimana pun, dia dapat memantau perjalanan surat tersebut sekaligus mendisposisinya melalui gadget mereka. 

"Aplikasinya tentu kita bangun. Namun untuk e-surat sudah ada aplikasinya. Kegiatan ini harus didukung anggaran yang cukup, sehingga terlaksana sesuai harapan Walikota, apalagi kegiatan ini sudah masuk Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Nasional, yaitu penataan tata laksana pemerintahan. Salah satu cyber city di Indonesia adalah Kota Bogor," ujar putra Lubuk Begalung ini.

Saat ini anggarannya terdistribusi dalam beberapa kegiatan. Misalnya pembuatan jaringan dianggarkan Rp45 juta, dan ada juga anggaran pembuatan sistem. Pada prinsipnya, kegiatan ini didukung penuh Walikota dan Wakil Wakil Walikota. Bahkan dalam SOTK yang baru ada dinas tersendiri yang diusulkan untuk mengurus ini, namun terkendala oleh persoalan lain. 

Sebagaimana diketahui, cyber city adalah sebuah konsep kota masa depan yang berbasis teknologi informasi tingkat lanjut. Sebuah kota dengan konsep cyber city yang telah mapan akan menjadi sebuah kota yang terkoneksi di seluruh bidang. Berbagai kebutuhan masyarakat kota dalam dalam berbagai bidang, baik ekonomi, sosial, politik, pendidikan dan lain-lain tersaji dalam satu konsep yang saling berhubungan. Ujung-ujungnya konsep cyber city sebenarnya adalah harapan  untuk dapat meningkatkan kualitas kehidupan warga sebuah kota. (tf)

Berkat Udara Bersih, Kota Padang Raih Penghargaan Kota Langit Biru 2014


PADANGPOS, (Padang)
Di awal tahun 2015 ini lagi-lagi Kota Padang meraih penghargaan. Kali ini, kota yang dipimpin pasangan Walikota Mahyeldi Ansharullah dan Wakil Walikota Emzalmi ini diganjar penghargaan dari Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI. Penghargaan ini diperoleh berkat bersihnya kualitas udara di Kota Padang.
Penghargaan “Kota Langit Biru 2014” untuk kategori Kota Besar diraih Kota Padang setelah melalui penilaian Evaluasi Kualitas Udara Perkotaan (EKUP) yang dilakukan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan tahun 2014 lalu. Dengan penghargaan ini, Kota Padang berhak memboyong satu unit sepeda listrik dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI yang diserahkan Asisten Deputi Pencemaran Udara dan Sumber Tidak Bergerak, Dasrul Chaniago kepada Walikota Padang diwakili Kepala Bappedalda Kota Padang, Edi Hasymi di Kantor Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI di Jakarta, Selasa (10/3) lalu.   
Mendapat kabar Kota Padang terpilih sebagai “Kota Langit Biru” kategori Kota Besar bersama empat kota lainnya (Malang, Pontianak, Balikpapan dan Tangerang Selatan), Walikota Padang, Mahyeldi Ansharullah cukup gembira. “Alhamdulillah setelah dua tahun berturut-turut meraih penghargaan ini, pada tahun ini kita kembali meraihnya,” ujarnya.
Diperolehnya penghargaan ini melalui proses yang cukup panjang. Sebanyak 45 kota di Indonesia dinilai Tim Kementerian LH yang dilakukan pada Juli hingga Agustus 2014 lalu. Sejumlah aspek pun dinilai, hingga akhirnya Kota Padang juga berhak memboyong penghargaan tersebut. “Keberhasilan meraih penghargaan ini tidak terlepas dari kerjasama dan koordinasi yang baik dari seluruh pihak termasuk masyarakat dalam mendukung program-program yang terkait dengan upaya pengendalian pencemaran udara,” ungkap Mahyeldi.
Walikota Mahyeldi menuturkan, hasil penilaian EKUP ini akan berkontribusi dalam mendukung penilaian Adipura nantinya. Terlepas dari itu, pemerintah dan masyarakat sangat diharapkan dukungannya untuk terus menjaga agar kualitas udara di Kota Padang tetap sehat dan tidak tercemar. “Menjaga kualitas udara melalui kegiatan dan upaya-upaya yang terus menerus serta membudaya tidak hanya akan mendatangkan penghargaan, tetapi juga menjadi wujud nyata baiknya kualitas lingkungan hidup di Kota Padang,” katanya.
Sementara itu, Kepala Bapedalda Kota Padang, Edi Hasymi menyebut program Langit Biru 2014 yang dilakukan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan ini merupakan program aksi pengendalian pencemaran udara melalui impelmentasi kegiatan secara terpadu. “Sejak beberapa tahun lalu Kementerian Lingkungan Hidup telah melaksanakan kegiatan Evaluasi Kualitas Udara Perkotaan yang bertujuan untuk mendorong peningkatan kualitas udara perkotaan dari pencemaran udara yang bersumber dari kendaraan bermotor melalui penerapan transportasi berkelanjutan,” bebernya. 
“Selain meningkatkan kualitas udara kota, program ini juga dapat menjawab tantangan upaya-upaya inovatif untuk program penurunan konsumsi bahan bakar minyak sekaligus mengurangi emisi gas rumah kaca yang merupakan penyebab terjadinya perubahan iklim dari sektor transportasi,” tambahnya lagi.

Diungkapkan Edi Hasymi, untuk di Kota Padang, Tim Kementerian Lingkungan Hidup pada tahun 2014 lalu melakukan penilaian di tiga titik. Ketiga titik itu yakni di Jalan S. Parman (lapangan parkir makam pahlawan), Jalan H. Agus Salim, Sawahan, serta di Jalan By Pass Km 10, Kuranji. Di tiga titik itu dilakukan penilaian fisik yang meliputi uji emisi, pemantauan kinerja lalu lintas, pemantauan kualitas udara ambient, serta pemantauan kualitas bahan bakar.  
Informasi yang diperoleh, penghargaan ini diraih berkat upaya pemerintah dan masyarakat dalam menyikapi upaya pengendalian pencemaran udara. Dimana di Kota Padang terus dilakukan kegiatan pemantauan kualitas udara yang dilakukan secara berkala dengan dana APBD. Selain itu juga adanya upaya pengendalian pencemaran udara yang ditandai dengan data penurunan jenis penyakit yang dominan terkait dengan pencemaran udara. “Upaya kita dalam mereduksi tingkat pencemaran udara dari emisi sumber bergerak serta adanya kepedulian perangkat daerah Kota Padang dalam penganggaran yang berkaitan dengan upaya pengendalian pencemaran udara juga termasuk poin penting sehingga kita meraih penghargaan ini,” jabar Kepala Bappedalda, Edi Hasymi.
Seperti diketahui, saat ini manajemen transportasi di Kota Padang cukup tertata dengan baik. Diantaranya seperti pengoperasian bus Trans Padang, terdapatnya lokasi “car free day”, penggunaan solar energy untuk traffic light dan lampu jalan, program Area Traffic Control System (ATCS) pada persimpangan rawan macet. Begitu juga dengan meningkatnya upaya penghijauan kota serta terdapatnya kendaraan non motorize transportation (bendi) dan budaya bersepeda di kawasan Pantai Padang. “Ini semua poin-poin aspek non fisik yang sangat berpengaruh dalam meraih penghargaan ini,” terangnya lagi. 
Sebanyak 15 kota terpilih di Indonesia meraih penghargaan dari Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI. Kota penerima penghargaan itu terdiri dari tiga kategori yaitu Kota Metropolitan, Kota Besar dan Kota Sedang.(Charlie/Humas)

Teks foto: TERIMA-Kepala Bappedalda Kota Padang, Edi Haysmi menerima sepeda listrik dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI yang diserahkan Asdep Pencemaran Udara dan Sumber Tidak Bergerak, Dasrul Chaniago, di Jakarta, Selasa (10/3) kemarin. Kota Padang termasuk lima kota besar yang meraih penghargaan Kota Langit Biru 2014 yang diadakan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI. (Humas Pemko Padang)  

PANTAI AIR MANIS SEGERA DITATA Malin Kundang Nyaris Terkubur

PADANGPOS  (Padang)
Pantai Air Manis dan Batu Malin Kundang merupakan objek wisata di Desa Aie Mani, Kelurahan Aie Manih,  Kec. Padang Selatan, Kota Padang telah populer hingga kebelahan dunia. Tidak jauh dari Batu Malin Kundang tersebut terdapat bebatuan besar adalah kapal besar milik Malin Kundang yang berlabuh dan berubah menjadi batu.
Tapi kini,  Malin Kundang yang dikutuk menjadi batu itu, telah terbenam pula oleh pasir pantai. Ombak  yang tak henti-hentinya berdebur juga tak memperdulikannya. Kasihan Malin Kundang telah nyaris terbenam, ucap Wakil Walikota Padang Ir. H. Emzalmi, MM didampingi Kepala Dinas TRTB Afrizal , BR, Kadis Kebersihan dan Pertamanan H. Afrizal Khaidir, Kadishubkominfo Rudy Rinaldy, Andre H. Algamar dari  Satpol PP, Kadis PU Musriwendi dan Kadis Kebudayaan, Pariwisata Dian Fackri, Selasa (10/3)  
Untuk itu Pemerintah Kota Padang berencana  membenahi dan menata kembali objek wisata Pantai Air Manis, para  Pedagang Kaki Lima (PKL) yang menghambat pemandangan ke lautan, serta   yang berada di kawasan Batu Malin Kundang segera dipindahkan lokasinya ke pinggir bukit menghadap ke sungai dan laut. 
Setelah itu, mengembalikan kondisi Batu Malin Kundang seperti dulu lagi, kapal sedang bersandar di muara sungai. Dan   kembali menghidupkan aliran sungai yang sekarang tertutup pasir,  hingga batu Malin Kundang,. Menyediakan areal perparkiran yang nyaman untuk kendaraan para pengunjung, sebut Emzalmi
Maka untuk itu diminta para PKL untuk bersedia pindah agar tidak terganggu dengan pekerjaan yang segera dilaksanakan. Dan sejalan dengan itu, pembenahan objek wisata pantai Air Manis itu akan melibatkan beberapa kepala SKPD, diantaranya Dinas Perindag Tamben terhadap pengelolaan dan penataan PKL, Dinas Kebersihan dan Pertamanan tentang kebersihan lingkungan, Dishubkominfo tentang areal parkir dan jalan, Dinas PU tentang pengerukkan kembali aliran sugai menuju batu Malin Kundang.dan Pengelola Objek Wisata (BPOW) dari warga sekitarnya.
Mereka juga akan berfungsi mengawasi pantai yang populer dengan batu Malin Kundang tersebut, serta kepedulian dan rasa memiliki yang tinggi. Menciptakan kenyamanan, ketentraman, kebersihan dan  keindahan. Sehingga para pengunjung  kembali ramai lagi mengunjungi pantai Air Manis. Ini yang kita harapkan bersama, ujar Emzalmi. 

Dan kalau Pantai Air Manis nyaman, tentram, bersih, indan dan  mengasikkan ditambah pula keramah tamahan BPOW, maka orang akan kembali berkunjung ke pantai kabanggaan, Air Manis. Pantai Air Manis bila telah jadi tujuan masyarakat untuk menghabiskan waktu untuk berlibur, ramai, maka otomatis warga disekitarnya akan mengalami peningkatan pendapatannya. Mereka jadi sejahtera. Untuk  itu, biasakanlah menyapa dengan senyum dan melayani dengan menyenangkan. (tf/ir)

Rabu, 04 Maret 2015

Walikota Tempuh Medan Berat, Camat Pauh Wardas Tanjung Tersesat

PADANG - Walikota Padang H. Mahyeldi Ansharullah melakukan peninjuan langsung kegiatan pembersihan hulu sungai Batang Kuranji atau Sungai Padang Janiah di Kecamatan Pauh. Perjalanan menuju lokasi dimulai kemarin (Jumat, 27/2) siang, dengan melewati medan yang berat.
Didampingi Kabag Humas dan Protokol, Mursalim dan seorang warga setempat selaku pemandu jalan, Rajo Bujang, serta beberapa orang staf, Mahyeldi melintasi jalan setapak yang mendaki serta menyusuri sungai deras dan berbatu.

Rombongan sampai menjelang maghrib di tenda Posko Tim Pembersih Hulu Sungai di kawasan hutan Padang Janiah yang berjarak sekitar 8 kilometer dari Batu Busuak, Lambung Bukik untuk kemudian akan bermalam di posko tersebut.

Pada malam harinya, suasana di posko sempat diwarnai ketegangan karena kabar tersesatnya Camat Pauh Wardas tanjung bersama dua orang lainnya yang terpisah dari rombongan Walikota. Upaya pencarian dilakukan oleh personel BPBD dan beberapa orang relawan.
Alhasil, Wardas Tanjung dan dua orang lainnya ditemukan oleh warga setempat dan diantarkan ke Posko menjelang tengah malam, setelah empat jam lamanya tersesat.

Terkait kegiatan pembersihan di hulu sungai tersebut, sudah dilaksanakan oleh personel Badan Penanggulangan Bencana Daerah dan Pemadam Kebakaran (BPBDPK) serta beberapa SKPD sejak Senin (23/2) lalu.

Menurut Walikota, pembersihan di bagian hulu ini dilakukan guna mengantisipasi terjadinya banjir bandang seperti yang terjadi pada 2012 lalu. Dimana kawasan Limau Manih, Lambung Bukik dan sekitarnya dihondoh galodo dahsyat. Puluhan bangunan rumah dan fasilitas pendidikan serta masjid rusak, serta puluhan ekor ternak hanyut dan puluhan hektar lahan pertanian terendam.
”Ini diakibatkan penyumbatan di bagian hulu oleh material lumpur, batu dan kayu sehingga terbentuknya waduk yang sewaktu - waktu rentan ambrol. Terlebih dengan meningkatnya volume air karena intensitas hujan yang tinggi. Inilah yang menyebakan terjadinya banjir bandang," kata Mahyeldi di Batu Busuak, Sabtu (28/2), sekembali dari peninjauan.

Lebih lanjut Mahyeldi mengatakan, di hulu Batang Kuranji yang disebut Patamuan dimana terdapat pertemuan sungai Padang Janiah dan sungai Padang Karuah direncanakan pembangunan jembatan serta akses jalan yang lebih baik. Sebab di kawasan tersebut terdapat banyak tanaman masyarakat seperti duku, manggis dan durian.

"Sesuai harapan masyarakat, kita rencanakan pembangunan jembatan agar nantinya memudahkan warga membawa hasil panen apabila musim,” ujarnya.

Hal itu diamini pemuka masyarakat yang menjadi pemandu rombongan Walikota dalam perjalanan tersebut. Rajo Bujang mengungkapkan, harapan masyarakat Batu Busuak agar akses jalan menuju Patamuan diperbaiki termasuk pembangunan sebuah jembatan.

"Di kawasan Patamuan itu banyak tanaman masyarakat yang menghasilkan. Tetapi jarang hasilnya maksimal dapat dimanfaatkan karena sulitnya medan yang harus di tempuh oleh warga,” tutur Rajo Bujang.

Selain itu, ia berterima kasih atas perhatian Pemerintah Kota Padang untuk melakukan pembersihan hulu sungai untuk mengantisipasi terjadinya banjir bandang.
"Selama ini kami was-was bila curah hujan tinggi. Takut banjir bandang akan melanda kampung kami,” katanya. (Humas-Padang)